Kampung Tugu : Sejarah dan Budaya

Kampung Tugu adalah permukiman yang dihuni oleh orang-orang keturunan Portugis berdasarkan status kewarganegaraan yang telah mendiami wilayah itu sejak hampir empat abad lalu. Kini, secara administratif, Kampung Tugu berada dalam wilayah Semper Barat, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Berdasarkan wilayah administratifnya, Kelurahan Semper Barat berbatasan dengan Jalan Raya Cilincing/Kelurahan Kali Baru di sebelah utara, Jalan Raya Cilincing/Kelurahan Semper Timur di sebelah timur, Kali Cakung Lama di sebelah barat, dan Kali Gubuk Genteng di sebelah selatan. Kelurahan Semper Barat memiliki luas kawasan sebesar 159,7 ha, pada ketinggian 2 meter dari permukaan laut. Wilayah Kampung Tugu sendiri merupakan salah satu tempat wisata budaya maupun sejarah yang ada di Jakarta Utara. Di Kampung Tugu terdapat musik khas yang dinamai sebagai musik keroncong yang telah dimainkan  sejak tahun 1661. Orang-orang Tugu yang merupakan warga negara Portugis menjadi tawanan perang Belanda sejak tahun 1641, Belanda kemudian membebaskan orang-orang Tugu secara bertahap mulai tahun 1653. Ketika mereka datang ke Kampung Tugu, mereka membawa alat-alat musik yang dimainkan dan digunakan untuk melepas lelah dan menghibur diri. Alat-alat musik yang dibawa seperti proungamacinajiterabiola dan rebana. Di kampung inilah asal mausal musik keroncong lahir dan berkembang di Indonesia.

Keroncong dari Kampung Tugu memiliki gaya dan irama yang khas dan dapat membuat pendengarnya larut dan bergoyang!

Grup keroncong yang pertama di Kampung Tugu adalah Poesaka Moresco Toeoge (Moresco), didirikan sekitar tahun 1925 oleh Yosep Quiko. Group ini mengalami pasang surut, sempat vakum lalu aktif kembali dan pada tahun 1070an grup ini kembali vakum hingga saat ini.

Pada tahun 1986, TVRI membuat acara Gatra Kencana Kebudayaan dan pada saat itu, Dedi Stiadi, sutratrada senior diTVRI kala itu, mengangkat kisah Kampung Tugu dengan judul Tugu Dulu Tugu Sekarang. Salah satu naras umber dalam liputan tersebut menyatakan bahwa anak muda di Tugu (sudah) tidak mau bermain musik keroncong lagi!. Pernyataan ini mengelitik Arend Julinse Michiels yang adalah pemain cello di grup  Moresco untuk mengumpulkan anak-anak muda Tugu untuk kembali bermain keroncong. Arend mendatangi rumah-rumah orang-orang Tugu, menyakinkan para orang tua untuk mau mengirimkan anak-anak mereka untuk berlatih keroncong.

Usaha Arend berhasil, pada 12 Juli 1988 dibentuklah grup Krontjong Toegoe yang terdiri dari berbagai fam (nama keluarga) yang ada di Kampung TuguKrontjong Toegoe menjadi grup musik keroncong ke dua di TuguArendmengambil posisi sebagai penasehat dan  meminta kesediaan Frenky Abrahams menjadi leader di grup. Pada tahun 1993, Ketika Arend meninggal dunia, Frenky mengundurkan diri dan menyerahkan kepemimpinan grup kepada Andre Juan Michiels hingga saat ini.

Setelah grup Krontjong Toegoe berdiri, grup baru mulai bermunculan dan saat ini ada grup Cafrinho Tugu, yang dididirikan oleh Samuel QuikoDe Mardijkers, didirikan oleh Andre Juan Michiels pada tahun 2008 dan di pimpin oleh Arend Stevanus Michiels, grup Keroncong Muda Mudi Cornelis (KMMC), di pimpin oleh Sharly Abrahams dan grup Bale Keroncong yang di pimpin oleh Santana Manurung

Tradisi Rabo-rabo dan Mande-mande adalah kegiatan buadaya yang masih dilakukan oleh maryarakat Tugu  yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Besar Tugu (IKBT)IKBT  rutin menggelar tradisi Rabo-Rabo setiap tanggal 1 Januari, yaitu pesta tahun baru yang dilakukan dengan mengunjungi  rumah-rumah orang-orang Tugu yang diiringi dengan musik keroncong, tuan rumah menerima rombongan sambil menyajikan hidangan tahun baru lalu bernyanyi dan bergoyang bersama mengikuti irama keroncong. Setelah bersuka ria bersama, tuan rumah akan ikut dengan rombongan untuk mendatangi rumah lainnya, hingga rombongan membentuk kelompok yang besar, memanjang seperti ekor.

Tradisi Mande-Mande dilakukan setiap hari minggu pertama di bulan Januari, dilaksanakan dengan cara saling mencoreng bedak ke wajah orang orang lain,yang dimaksudkan bahwa kesalahan orang tersebut sudah di maafkan dan sebaliknya. Inti dari perayaan ini adalah saling memafkan. Agar memasuki tahun yang baru tidak ada lagi ganjalan di hati, mengawali tahun baru dengan suka cita dan hati, jiwa serta pikiran yang bersih sehingga apa yang di kerjakan disepanjang tahun yang baru mendapatkan berkat yang melimpah dari Tuhan.

Selain kebudayaan yang beragam di Kampung Tugu, terdapat juga berbagai  cagar budaya yang dijaga dan di lestarikan oleh masyarakat. Salah satu cagar budaya atau peninggalan yang dilindungi dan tidak boleh diubah bentuk serta fungsinya adalah bangunan Gereja Tugu yang sudah berdiri kokoh selama hampir 300 tahun. Pembangunan Gereja Tugu I,diperkirakan dimulai tahun 1675-1678 M yang bersamaan dengan pendirian sekolah rakyat pertama kali di luar tembok Batavia oleh Melchior Leijdekker. Memperahtikan perkembangan jemaat maka Gereja Tugu I di pugar  pada tahun 1738, oleh Ds Dirk van der Tijd, yang  loncengnya di berikan oleh Raja Goa. Ketika terjadi Pemberontakan China (Cina Onlusten) saat Gubernur Jendral di jabat oleh Adrian Valkeneer, Gereja Tugu II di bakar, musnahlah segala catatan tentang orang-orang Tugu dan sejarahnya. Adalah Justinus Vinc seorang tuan tanah yang menguasai Cilincing,Weltevreden hingga Tanah Abang yang bermurah hati memberikan sebidang tanah untuk dibangun gedung Gereja Tugu III, pada saat Gubernur Jendral Baron Van Imhoff bertugas di Batavia. Pembangunan gedung gereja ini dimulai pada tahun 1744 dan selesai pada tahun 1747. Gedung Gereja Tugu III di tahbiskan pada tanggal 29 Juli 1748 oleh seorang pendeta keturunan Portugis, bernama Johan Mauritz Mohr. Tempo dulu, ibadah menggunakan bahasa Portugis,Belanda dan Melayu.

Peninggalan orang-orang Tugu lainnya adalah makam khusus orang-orang Tugu yang sampai saat ini masih digunakan dan telah berusia ratusan tahun. Makam ini terletak di sisi kiri bagian belakang gedung Gereja Tugu.

Kuliner menjadi bagian tak terpisahkan jika membahas suatu budaya peradaban manusia. Budaya jajahan tidak hanya mempengaruhi kondisi politik dan sosial masyarakat, tetapi juga kuliner yang menjadi unsur pendukung serta dapat menjadi suatu ciri khas. Di Kampung Tugu, selain  akulturasi budaya Portugis, berbagai kuliner khas pun dapat kita nikmati walaupun beberapa diantaranya hanya tersedia dalam acara-acara khusus. Kuliner khas Kampung Tugudiantaranya adalah Gado-Gado SiramPindang SeraniSped, kue Pisang UdangKetan Unti dan Apem Kinca

Sampai tahun 2020, pernah ada sebuah banguna rumah yang dibangun pada sekitar tahun 1770an dan sempat dikenal sebagai rumah tua, namun banjir telah merusak rumah tua dan karena hamper roboh serta tidak lagi layak untuk dijadikan tempat tinggal, akhirnya rumah tua di renovasi dengan tetap mengikuti bentuk asli rumah tersebut. Bangunan ini kemudian dikenal sebagai rumah Tugu.

Bahasa Kreol Portugis adalah Bahasa yang digunakan oleh orang-orang Tugu selama 3,5 abad. Bahasa Kreol adalah bahasa yang penulisan dan pengucapannya sama. Beberapa kata Bahasa Kreol : kumi (makan), bebe (minum), merda(kotoran manusia), genti malai (orang kampung). Kini Bahasa Kreol tidak lagi digunakan sebagai bahasa sehari-hari dan hanya ditemukan dalam syair lagu-lagu keroncong yang diciptakan oleh orang-orang Tugu, seperti : cafrinho dan gato do mato.